Menyantap Soto Tauto [3]

Senin, 06 Februari 2012 , 10:26:24 WIB
Menyantap Soto Tauto [3]
Lama tak menikmati masakan soto asli Pekalongan, namanya Tauto. Dari stasiun kami meluncur ke PPIP, tempat di mana warung Tauto langganan saya. Setiap ke tanah leluhur ini saya suka sempatkan ke tempat ini. Sebenarnya warung tauto tak hanya di sini. Di sudut kota lain juga ada. Hanya saja di sini lebih enak, karena area parkirnya juga luas. Leluasa masuk dan keluarkan mobil. Dari kesedapan rasa, saya kira relatiflah.

Tauto adalah kuliner khas Pekalongan. Seperti kebanyakan soto lainnya, Tauto dibuat dari kuah rasa tauco, daging kerbau, santan kental, bersama campur nasi atau lontong. Orang mengenal Tauto makanan khas dari Pekalongan, tapi di sejumlah daerah sekitar seperti Pemalang, Batang, Pemalang, hingga Tegal, kuliner ini juga dapat dijumpai. Tapi saya pernah mencicipi Tauto di kota-kota tadi beda cita rasa dibanding dengan Tauto khas Pekalongan. Rasanya tak seberapa "nendang" dibandingkan dengan masakan Pekalongan.

Pekalongan kaya akan kuliner. Selain Tauto tadi, sejumlah makanan khas daerah ini tak kalah nikmatnya. Saya sebut saja Nasi Megono, terbuat dari nasi dengan sayur nangka (muda) yang dicincang kecil-kecil, dikukus dengan ramuan dedaunan lain semisal daun salam, yang lezatnya tak ketulungan. Makanan lain dapat disebut Gulai Kerbau khas Pekalongan atau Pindang Tetel, dari kulit kerbau yang dirajam dengan kuah santan kental. Luar biasa.

Karena santan kental, awas dengan kolesterol. Juga daging kerbau yang sarat dengan lemah tak-ramah. Secukupnya saja bila anda termasuk yang ingin menjaga kesehatan tubuh. Bukan apa-apa. Soalnya aroma Tauto dan kuliner yang saya sebut di atas, sangat menggugah selera kita. Bisa-bisa lupa takaran karena benar-benar lezat dan nikmatnya. Jangan sampai lupa daratan.

Sejak kanak-kanak saya juga menyukai semua kuliner khas Pekalongan tersebut. Makan semangkuk Tauto rasanya masih kurang, bisa nambah atau dalam bahasa lokal disebut "nanduk". Bagi yang sampai madat, akan terasa ketagihan. Saya termasuk yang ketagihan tadi. Tapi sejak usia kepala empat, saya kurangi menikmatinya. Semangkuk cukuplah, itu pun lauk dagingnya saya kurangi drastis. Apalagi jeroan, wah sudah pamitan sejak lama. He..he...*

Pekalongan, 4 Februari 2012.